UAS semester 3 hari ke-2


بسم الله الرحمن الر حيم

UAS hari ke-2, mata kuliah yang diujikan ada 2 tidak seperti hari pertama yang 3 mata kuliah. Mata kuliah yang diujikan ialah Elektronika Industri dan Sensor & Tranducer. Kedua mata kuliah ini memiliki materi yang cukup berat. Elektronika Industri membahas tentang Komputer Analog, Osilator, Penguat Daya, RPS (Regulator Power Supply), Op-amp, Multivibrator, Feedback. Kalau Sensor & Tranducer membahas tentang semua jenis sensor seperti sensor suhu, kecepatan, tekanan, dan lain-lain.

Nah, pada hari ke-2 ini ternyata ada suatu keanehan lagi. Insya Alloh akan diceritakan disini.

Keanehan pertama

Saat ujian Elektronika Indsustri berlangsung. Ada salah satu teman saya tercinta bernama Muhammad Arief Syani yang sms ke HP dengan isi “Nang, pinjam kalkulator dengan kong sapa?”. Awalnya saya bingung apa maksud dari kata “kong”. Ternyata makna kata “kong” itu ialah sebutan orang cina yang suka berdagang.

Lho, mengapa syani sms saya begitu? Kalkulator yang saya pakai saat ujian itu memang berbentuk besar daripada kalkulator yang dipakai mahasiswa pada umumnya. Mungkin besarnya bisa 2-3 kali lipat. Ya, pokoknya emang mirip dengan kalkulator yang biasa digunakan pedagang untuk berhitung. Kalkulator yang saya gunakan ini sebenarnya bukan kalkulator saya. Akan tetapi, ini kalkulator mama saya. Ya biasa dipakai untuk menghitung keuangan karena mama saya dahulu mengurus keuangan yayasan alias bendahara yayasan. Mungkin penglihatan mama saya sudah jauh berkurang dibandingkan saat mudanya maka mama memilih kalkulator yang besar agar bisa jelas melihat angka-angka. Lantas, kemanakah kalkulator yang saya punya? Ternyata kalkulator saya sedang habis batere. Saya juga sempat bingung, kenapa cepat sekali kalkulator ini habis baterenya. Mungkin saya suka lupa mematikan.

Ujian ini benar sangat aneh. Mahasiswa dapat dengan leluasa mengirim pesan singkat ke mahasiswa lainnya juga mahasiswa yang menerima pesan singkat dapat membaca isi pesan. Sungguh kalau dibiarkan begitu saja ada fasilitas Handphone saat ujian maka bisa menjadi ladang kecurangan bagi mahasiswa. Eits, bukan sang dosen tidak tahu kalau kami mahasiswa ini membuka HandPhone. Dosen pengawas mengetahui kami membuka HandPhone akan tetapi dosen pengawas itu membiarkan saja kami bermain-main dengan alat canggih ini.

Lantas sapa yang salah?

Kami yang bermain HP atau dosen yang membiarkan kami bermain HP. Saya tidak tahu apakah di peraturan saat ujian ada keterangan tidak boleh menggunakan alat telekomunikasi. Masalahnya tidak dibacakannya peraturan dan tata tertib saat ujian berlangsung. Alangkah baiknya sebelum ujian berlangsung dosen pengawas membacakan peraturan dan tata tertib mengikuti ujian sehingga mahasiswa dapat memahami tindakan yang dia lakukan itu salah atau benar. Lebih saya takutkan lagi, tidak ada peraturan dan tata tertib yang tertulis. Semuanya fleksibel. Ini sangat berbahaya.

Keanehan Kedua

Keanehan ini terjadi pada saat ujian Sensor & Tranducer berlangsung. Yang mengawas kami ada 2 dosen. Mr.Y dan Mr.S. Awalnya jalannya ujian berlangsung biasa aja seperti halnya ujian di tempat lain. Tidak ada yang berani satu mahasiswa pun untuk berbuat curang karena ada Mr.Y yang cukup ketat dalam mengawasi jalannya ujian. Tetapi, Mr.S ini sangat terkenal dengan dosen yang paling baik saat ujian. Mengapa? Akan dibahas sekarang.

Tak selang lama, Mr.Y keluar dari kelas tempat kami ujian karena ada urusan yang ingin diurus. Keanehan mulai terjadi. Ada salah satu mahasiswa yang mencoba memancing Mr.S untuk memberikan jawaban soal dari ujian yang diberikan. Mr.S akhirnya memberikan kisi-kisi jawaban (mendekati jawaban) dari soal yang kami kerjakan. Ia mendatangi ke masing-masing meja mahasiswa untuk melihat jawaban mahasiswa. Jika ada yang mahasiswa tidak tahu, maka akan ia tuntun untuk menjawab. Oh iya perlu diketahui, Mr.S ini dosen pengajar Sensor & Tranducer walaupun beliau bukan yang mengajari kami saat teori. Makanya Mr.S bisa dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di soal. Lho, ujian macam apa ini?

Tidak hanya itu saja, mahasiswa dengan leluasa bisa pindah kesana kemari, menoleh kanan-kiri, memutar badan, saling menukar jawaban, bahkan ada yang pindah posisi tempat duduk untuk mencari jawaban teman. Keadaan kelas menjadi tidak kondusif lagi untuk yang namanya ujian.

Tiba-tiba datanglah Mr.Y yang telah selesai dari urusannya. Mr.Y kaget dengan apa yang terjadi barusan.  Tidak hanya Mr.Y yang kaget tetapi mahasiswa yang posisi duduknya pindah dan mahasiswa yang kertas jawaban yang mondar-mandir lebih kaget lagi. Berkatalah Mr.Y “Di dalam laporan pengawas akan saya tulis bahwa semua mahasiswa bekerja sama”. Sungguh ini sangat merugikan mahasiswa yang tidak berbuat curang dalam insiden tadi. Ada pertanyaan dalam benak saya, Apakah ada mahasiswa yang tidak berbuat curang tadi? Saya tadi ikut berbuat curang ga yah?

Skip Skip Skip

Seharusnya seorang dosen bertindak profesional. Jika ia dalam posisi mengajar maka ajarkanlah mahasiswa dengan sangat baik. Namun jika dalam posisi mengawas maka jangan mengajar saat mengawas. Awasi dengan ketat gerak-gerik mahasiswa dan catat jika ada yang berbuat curang. Sebenarnya ini bukanlah masalah di kampus saja. Tapi, ini sudah menjadi masalah bangsa ini. Penegak hukum yang tidak profesional, tidak adil, dan tidak bijak dalam menegakkan hukum di Indonesia. Semoga Alloh menjadikan kita hamba-Nya yang taat. :)

    • ariefsy
    • February 6th, 2010

    hhahaha banyak gaya lo nang!

    • riris rismawati
    • December 9th, 2010

    setujuuuuuuuuuu….. Siiip, ternyata masih ada yang berfikir benar :-)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.